Barangkali
sudah banyak cerita sahabat di dunia ini ya, tapi biarkan saja aku menceritakan
sepenggal kisahku dengan para sahabatku ini. Aku akan mengenalkan mereka
kepadamu kelak saat kau sudah memastikan memilihku untuk hidup bersama, kelak.
Aku
menengenalnya sekitar 4 tahun setelah tulisan ini dibuat, dia orang yang
pertama aku kenal di lingkunganku yang baru kala itu. Lingkungan perantauan dan
perkuliahan. Pertama bertemu dengannya satu yang menjadi komentarku, gendut.
Ya, dia memang lebih sehat (anggap saja bagitu) dibandingkan para calon
mahasiswa hari itu. Kemudian lebih mengenal dia karena kita disatukan salam
kelas kecil yang sama, kelas yang kemudian mengenalkanku pada sahabat-sahabat
hebat dan menyebalkan seperti mereka. Melanjutkan... dia paling terlihat berani
diantara kita, terkenal karena gaya dia yang lebih seperti laki-laki pada masa
awal kuliah. Panggil saja Dewi sahabatku itu.
Sejalannya
dengan kebersamaan setiap hari. Akupun tidak hanya bersahabat dengan Dewi. Aku
kemudian mengenal Dian, Dwi dan Ririn. Meraka kemudian menjadi bagian yang
susah terpisahkan bahkan saat wisuda walau terkadang menyebalkan.
Dia yang
lain adalah sahabatku dengan IPK terbaik, aku tak pernah menyadari bahwa salah
satu sahabatku ternyata luar biasa sampai beberapa semester terlewatkan. Dia
terkenal paling gaul informasi, aku pikir karena dia tinggal di lingkungan
anak-anak kampus negeri, sepertinya. Urusan teman nonton konser dan jalan-jalan
ke Mall aku selalu mengandalkan dia. Lebih gampang perijinan dengan pacarnya
daripada sahabatku yang lain. Akupun mengenal keluarga, tidak secara dekat
memang tetapi ya sekedar pernah bertemu. Sampai saat ini, aku masih sering
bercerita dengan dia sebaliknya juga. Dia konselorku... panggil saja Dian.
Dua
sahabatku ini selalu aku sebuat emak dan anak. Mereka susah terpisahkan tapi
susah didekatkan. Keduanya memiliki kesamaan yang bisa membuat aku menjadi
tertuduh, mereka menjadikan aku alasan agar acara mereka terlaksana tanpa
dilarang pacar-pacar mereka. Menyebalkan bukan? Aku mengingat mereka berdua
seperti makhluk gempal kembar di Alice in Wonderland, aku lupa nama mereka.
Mereka kini sama-sama serius menjalani hubungan dengan pasangan mereka, doaku
untuk mereka masih sama segera dibukakan pintu pencerahan soal jodoh. Haha...
biarkan aku dengan doa itu. Aku memanggil mereka Ririn dan Dwi.
Sungguh
keempat sahabatku ini menyenangkan sekaligus menyebalkan, barangkali itu sudah
menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan. Untuk apa memiliki sahabat, kalau
ceritamu dengan mereka hanya senang-senang tanpa pernah ada menyebalkan? Aku
bersyukur pernah bertemu mereka dan bisa bersama mereka selama 4 tahun ini.
Sungguh luar biasa, pengalaman hidup tak perlu aku rasakan semuanya. Dengan
mereka aku bisa berbagi pengalaman bukan?
Ini dua foto yang kebetulan aku bawa, selalu tak lengkap... tapi keduanya melengkapi gambaran cerita kami...
![]() |
| Dari Atas: Dewi, Dwi (Kacamata), Dian (Makan Puding) dan Aku |
![]() |
| Dari depan: Dian, Aku dan Ririn |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar