Andaikan...
Andaikan boleh
memilih, tentu saja tak akan aku pilih jalan mencintaimu seperti ini
Andaikan boleh
memilih, tentu saja tak akan ku pilih hatimu untuk bertahan
Andaikan boleh
memilih, tentu seharusnya aku sudah meninggalkan cinta sendiri ini sedari dulu
Andaikan boleh
memilih, tentu saat kau kembali dengan sapaan itu aku tak perlu tersipu malu
Andaikan
andaikan segalanya menjadikan andaikan untuk pertama kali bahwa aku mencintaimu
lagi tanpa bisa memilih.
Terlewatkan...
Begitu datang
tanpa memberi kabar dan tanda, hanya keraguan.
Bodoh pula aku,
sudah tahu keraguan masih saja memastikan.
Bagaimana tidak
aku pastikan, seorang yang entah kapan pastinya aku mengenalnya tiba-tiba
datang di hidupku dan membuat hariku indah dengan sapaan-sapaan dan
keluhan-keluhan manis sepanjang hari.
Aku pikir tak
perlu aku mengenalmu terlalu jauh, semakin lama aku mengenalmu mungkin akan
seperti kisah sebelumnya. Membosankan yang kemudian berakhir tanpa kelanjutan.
Tapi sayang.
Keraguan dan kepastian yang aku satukan ternyata menjadi senjata ancaman
bagimu, menurutku begitu. Kau mengumpat, menghilang dan entahlah mungkin juga
mematikan perasaanmu kepadaku. Semoga kau tahu aku pernah juga pernah
sepertimu, melewatkan yang sebenarnya nyata mencintaimu.
Itu beberapa
percobaan puisi yang aku tulis untuk kamu, semoga bisa dibaca dengan segala
kerinduan seperti yang aku rasakan saat menuliskan kisah singkat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar