Rabu, 17 April 2013

Sah(e)batku

Barangkali sudah banyak cerita sahabat di dunia ini ya, tapi biarkan saja aku menceritakan sepenggal kisahku dengan para sahabatku ini. Aku akan mengenalkan mereka kepadamu kelak saat kau sudah memastikan memilihku untuk hidup bersama, kelak.

Aku menengenalnya sekitar 4 tahun setelah tulisan ini dibuat, dia orang yang pertama aku kenal di lingkunganku yang baru kala itu. Lingkungan perantauan dan perkuliahan. Pertama bertemu dengannya satu yang menjadi komentarku, gendut. Ya, dia memang lebih sehat (anggap saja bagitu) dibandingkan para calon mahasiswa hari itu. Kemudian lebih mengenal dia karena kita disatukan salam kelas kecil yang sama, kelas yang kemudian mengenalkanku pada sahabat-sahabat hebat dan menyebalkan seperti mereka. Melanjutkan... dia paling terlihat berani diantara kita, terkenal karena gaya dia yang lebih seperti laki-laki pada masa awal kuliah. Panggil saja Dewi sahabatku itu.
Sejalannya dengan kebersamaan setiap hari. Akupun tidak hanya bersahabat dengan Dewi. Aku kemudian mengenal Dian, Dwi dan Ririn. Meraka kemudian menjadi bagian yang susah terpisahkan bahkan saat wisuda walau terkadang menyebalkan.
Dia yang lain adalah sahabatku dengan IPK terbaik, aku tak pernah menyadari bahwa salah satu sahabatku ternyata luar biasa sampai beberapa semester terlewatkan. Dia terkenal paling gaul informasi, aku pikir karena dia tinggal di lingkungan anak-anak kampus negeri, sepertinya. Urusan teman nonton konser dan jalan-jalan ke Mall aku selalu mengandalkan dia. Lebih gampang perijinan dengan pacarnya daripada sahabatku yang lain. Akupun mengenal keluarga, tidak secara dekat memang tetapi ya sekedar pernah bertemu. Sampai saat ini, aku masih sering bercerita dengan dia sebaliknya juga. Dia konselorku... panggil saja Dian.
Dua sahabatku ini selalu aku sebuat emak dan anak. Mereka susah terpisahkan tapi susah didekatkan. Keduanya memiliki kesamaan yang bisa membuat aku menjadi tertuduh, mereka menjadikan aku alasan agar acara mereka terlaksana tanpa dilarang pacar-pacar mereka. Menyebalkan bukan? Aku mengingat mereka berdua seperti makhluk gempal kembar di Alice in Wonderland, aku lupa nama mereka. Mereka kini sama-sama serius menjalani hubungan dengan pasangan mereka, doaku untuk mereka masih sama segera dibukakan pintu pencerahan soal jodoh. Haha... biarkan aku dengan doa itu. Aku memanggil mereka Ririn dan Dwi.
Sungguh keempat sahabatku ini menyenangkan sekaligus menyebalkan, barangkali itu sudah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan. Untuk apa memiliki sahabat, kalau ceritamu dengan mereka hanya senang-senang tanpa pernah ada menyebalkan? Aku bersyukur pernah bertemu mereka dan bisa bersama mereka selama 4 tahun ini. Sungguh luar biasa, pengalaman hidup tak perlu aku rasakan semuanya. Dengan mereka aku bisa berbagi pengalaman bukan? 

Ini dua foto yang kebetulan aku bawa, selalu tak lengkap... tapi keduanya melengkapi gambaran cerita kami...

Dari Atas: Dewi, Dwi (Kacamata), Dian (Makan Puding) dan Aku

Dari depan: Dian, Aku dan Ririn

Selasa, 09 April 2013

Menangkap hal yang menyenangkan, sederhana

Taken From Kleting's Instagram, Dear future, yuuk!

Taken from Fitrop's Instagram, Fight!

Taken from Ollie's Intagsram, Absolutely when we're together :3

Taken from Vidi's Instagram, Crepes so love it :*

Ehm, forget! but approved!

Taken from Online Shop, i had that clucth :*

Jumat, 05 April 2013

Menyoal sebuah cerita lalu

Andaikan...

Andaikan boleh memilih, tentu saja tak akan aku pilih jalan mencintaimu seperti ini
Andaikan boleh memilih, tentu saja tak akan ku pilih hatimu untuk bertahan
Andaikan boleh memilih, tentu seharusnya aku sudah meninggalkan cinta sendiri ini sedari dulu
Andaikan boleh memilih, tentu saat kau kembali dengan sapaan itu aku tak perlu tersipu malu
Andaikan andaikan segalanya menjadikan andaikan untuk pertama kali bahwa aku mencintaimu lagi tanpa bisa memilih.

Terlewatkan...

Begitu datang tanpa memberi kabar dan tanda, hanya keraguan.
Bodoh pula aku, sudah tahu keraguan masih saja memastikan.
Bagaimana tidak aku pastikan, seorang yang entah kapan pastinya aku mengenalnya tiba-tiba datang di hidupku dan membuat hariku indah dengan sapaan-sapaan dan keluhan-keluhan manis sepanjang hari.
Aku pikir tak perlu aku mengenalmu terlalu jauh, semakin lama aku mengenalmu mungkin akan seperti kisah sebelumnya. Membosankan yang kemudian berakhir tanpa kelanjutan.
Tapi sayang. Keraguan dan kepastian yang aku satukan ternyata menjadi senjata ancaman bagimu, menurutku begitu. Kau mengumpat, menghilang dan entahlah mungkin juga mematikan perasaanmu kepadaku. Semoga kau tahu aku pernah juga pernah sepertimu, melewatkan yang sebenarnya nyata mencintaimu.


Itu beberapa percobaan puisi yang aku tulis untuk kamu, semoga bisa dibaca dengan segala kerinduan seperti yang aku rasakan saat menuliskan kisah singkat ini.